Dunia Kembali Menoleh Indonesia: Ketegasan Era Susi Pudjiastuti Dipuji, Kini Dipertanyakan

Reporter : Redaksi

SINTORA NEWS — Tajam dan Akurat

 

Nama Susi Pudjiastuti kembali menggema di panggung internasional. Dalam pernyataan terbuka yang menyita perhatian, Presiden Korea Selatan memuji keberanian Indonesia pada masa kepemimpinan Susi dalam menegakkan kedaulatan laut. Kala itu, Indonesia tak ragu menindak kapal asing pelanggar hukum—termasuk kapal dari China—dengan satu pesan tegas: ditenggelamkan tanpa kompromi.

 

Langkah itu bukan sekadar simbol. Ia adalah pernyataan kedaulatan. Di saat banyak negara memilih diplomasi yang berlapis keraguan, Indonesia berdiri tegak: hukum ditegakkan di laut sendiri, tanpa tawar-menawar. Hasilnya nyata—praktik illegal fishing turun drastis, nelayan lokal bernapas lega, dan dunia mulai menoleh pada Indonesia sebagai contoh penegakan hukum maritim yang efektif.

 

Ketegasan tersebut membangun efek jera. Kapal-kapal asing yang sebelumnya bebas merangsek perairan Nusantara mulai berpikir ulang. Kebijakan penenggelaman kapal—yang kala itu menuai pro dan kontra—justru menjadi tonggak penting dalam perlindungan sumber daya laut nasional. Indonesia tak hanya berbicara kedaulatan, tetapi menjalankannya.

 

Namun, ironi kini muncul. Saat negara lain menyatakan ketertarikan meniru keberanian Indonesia, suara dari dalam negeri justru terdengar lebih lunak. Pendekatan yang menekankan diplomasi dan kehati-hatian kerap dipersepsikan sebagai kompromi. Pertanyaannya pun menguat: apakah ketegasan itu masih hidup, atau tinggal cerita masa lalu yang dirindukan?

 

Perubahan konteks geopolitik memang tak bisa diabaikan. Tekanan negara besar, dinamika kawasan, serta kepentingan ekonomi global menuntut kehati-hatian. Namun, publik menilai kehati-hatian tak semestinya mengaburkan garis tegas penegakan hukum. Kedaulatan, sebagaimana dibuktikan di era Susi, tidak untuk dinegosiasikan.

 

Perdebatan ini menjadi refleksi nasional. Haruskah Indonesia kembali pada gaya kepemimpinan maritim yang keras dan berani—dengan penegakan hukum yang gamblang—atau apakah pendekatan saat ini sudah cukup untuk menghadapi tekanan negara besar tanpa mengorbankan kedaulatan?

 

Satu hal pasti: dunia masih mengingat Indonesia yang tegas. Dan ketika dunia kembali memuji ketegasan itu, publik bertanya—akankah Indonesia menghidupkannya kembali, atau membiarkannya menjadi legenda?

 

-SINTORA NEWS

 

 

( Redaksi)

Editor : Redaksi

Info Publik
Berita Populer
Berita Terbaru