Ratusan Jagal dan Pedagang Daging Surabaya Turun ke Jalan, Tolak Relokasi RPH Pegirian

Reporter : Redaksi

SURABAYA – Sekitar 300 orang yang tergabung dalam Gerakan Para Jagal dan Pedagang Daging Se-Kota Surabaya menggelar aksi unjuk rasa menolak rencana relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke Tambak Oso Wilangun (TOW), Senin (12/1/2026).

 

Aksi dimulai sejak pukul 08.00 WIB dari kawasan RPH Pegirian, Jalan Pegirian, Surabaya. Massa membentangkan berbagai poster penolakan dan melakukan orasi yang menegaskan bahwa RPH Pegirian merupakan sumber mata pencaharian utama ratusan keluarga selama puluhan tahun.

 

Dalam orasinya, massa menyebut relokasi RPH berpotensi menambah beban biaya distribusi, meningkatkan harga daging di pasar, serta mengancam keberlangsungan usaha para jagal dan pedagang kecil. Mereka juga menyoroti risiko keselamatan dan kualitas daging apabila RPH dipindahkan ke lokasi yang berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

 

Sekitar pukul 09.40 WIB, massa bergerak menuju Kantor DPRD Kota Surabaya. Di lokasi tersebut, perwakilan aksi menyampaikan aspirasi secara langsung dan mendesak DPRD agar berpihak kepada rakyat serta menolak kebijakan relokasi yang dinilai tidak aspiratif dan minim sosialisasi.

 

Aksi sempat memanas ketika sebagian massa mencoba masuk ke dalam area DPRD dengan membawa seekor sapi. Namun, koordinator aksi Abdullah Mansyur bersama tokoh pendamping aksi langsung mengimbau massa untuk tetap menjaga kondusivitas.

 

Mediasi akhirnya dilakukan di ruang rapat DPRD Kota Surabaya dan diterima Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arief Fathoni, didampingi unsur kepolisian dan TNI. Dalam pertemuan tersebut, DPRD menyatakan menerima aspirasi massa dan berkomitmen menggelar rapat lanjutan dengan menghadirkan manajemen RPH guna mencari solusi terbaik. DPRD juga bersedia menandatangani surat penolakan relokasi dengan catatan ruang dialog tetap dibuka.

 

Usai dari DPRD, massa melanjutkan aksi ke Balai Kota Surabaya. Dalam audiensi dengan perwakilan Pemerintah Kota Surabaya dan manajemen PD RPH, Pemkot menegaskan bahwa relokasi RPH Pegirian merupakan bagian dari program penataan kota dan pengembangan kawasan Wisata Religi Ampel, serta tetap akan dilaksanakan.

 

Meski dialog dibuka, perwakilan jagal dan pedagang menyatakan belum dapat menerima keputusan tersebut dan menegaskan penolakan relokasi akan terus dilakukan, termasuk ancaman mogok kerja, hingga tuntutan mereka dipenuhi.

 

Aksi unjuk rasa berakhir sekitar pukul 15.15 WIB dan berlangsung aman serta tertib dengan pengamanan aparat gabungan.

 

 

 

 

SINTORA NEWS

Tajam dan Akurat

 

( Redaksi )

Editor : Redaksi

Info Publik
Berita Populer
Berita Terbaru