SINTORA NEWS – BERANI, TAJAM, DAN AKURAT
Langit kekuasaan di Kabupaten Pekalongan mendadak gelap.
Selasa, 3 Maret 2026, menjadi hari yang tak akan mudah dilupakan.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bergerak tanpa aba-aba. Tanpa sorotan kamera. Tanpa panggung konferensi pers. Operasi Tangkap Tangan (OTT) digelar secara senyap di wilayah Jawa Tengah — dan hasilnya mengejutkan.
Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, ikut terjaring dalam operasi tersebut.
Sejumlah pihak lainnya turut diamankan. Mereka langsung digiring menuju Gedung Merah Putih KPK di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan intensif. Waktu 1x24 jam menjadi penentu: siapa saksi, siapa tersangka.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan operasi tersebut. Namun detail perkara masih dirapatkan. Jenis dugaan pelanggaran? Nilai transaksi? Barang bukti? Masih dalam pengembangan.
Namun satu hal tak bisa dibantah:
ini bukan sekadar penangkapan. Ini tamparan keras bagi kepercayaan rakyat.
Jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah titipan.
Namun setiap kali kepala daerah terseret OTT, publik kembali bertanya:
apakah kekuasaan masih dipakai untuk melayani — atau justru dimanfaatkan?
Masyarakat Pekalongan kini menunggu kejelasan.
Apakah ini terkait proyek pemerintah? Perizinan? Gratifikasi? Atau praktik lain yang merugikan uang rakyat?
KPK kembali menunjukkan taringnya.
Tak berisik, tapi menghantam.
Tak banyak bicara, tapi langsung menyergap.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tak ada jabatan yang kebal hukum.
Siapa pun yang bermain-main dengan kepercayaan publik, cepat atau lambat akan berhadapan dengan palu keadilan.
Perkembangan terbaru akan terus kami kawal dan sajikan secara mendalam.
SINTORA NEWS
Berani • Tajam • Akurat
( Redaksi)
Editor : Redaksi