SURABAYA — Kota Surabaya menjadi saksi bahwa hukum tidak selalu harus berujung pada borgol dan jeruji besi. Sebuah kisah kemanusiaan menggugah nurani publik setelah seorang mahasiswi tertangkap mencuri akibat himpitan ekonomi—demi makan sehari-hari dan membayar biaya kost yang menunggak.
Mahasiswi tersebut bukanlah penjahat kelas kakap. Ia adalah anak bangsa yang sedang berjuang bertahan hidup di tengah kerasnya realitas ekonomi. Tekanan hidup, keterbatasan keluarga, dan tuntutan sebagai mahasiswa di kota besar mendorongnya mengambil jalan yang salah. Sebuah kesalahan yang lahir dari keputusasaan, bukan niat jahat.
Kasus ini sempat mengarah pada proses hukum formal. Ancaman pidana penjara membayang, seolah siap memutus masa depan dan pendidikannya. Namun di titik krusial itulah, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan hadir dengan pendekatan berbeda—pendekatan yang jarang, namun sangat dirindukan masyarakat: kemanusiaan.
Melalui mekanisme restorative justice, Kapolrestabes memfasilitasi mediasi antara korban dan pelaku. Suasana haru pun menyelimuti proses tersebut. Korban, dengan ketulusan hati, memilih memaafkan. Tak ada dendam, tak ada tuntutan balas. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa di hadapannya berdiri seorang mahasiswi yang sedang jatuh, bukan kriminal yang harus dihancurkan hidupnya.
Keputusan damai dicapai. Kasus diselesaikan tanpa penjara, tanpa stigma berkepanjangan, dan tanpa mengorbankan masa depan.
Namun kepedulian Kapolrestabes Surabaya tidak berhenti pada meja mediasi.
Dengan empati yang tulus, Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan memberikan bantuan biaya kost serta uang saku kepada sang mahasiswi. Sebuah uluran tangan yang menjadi bukti nyata bahwa negara hadir bukan hanya untuk menghukum, tetapi juga untuk melindungi, membina, dan memulihkan.
Tindakan ini sontak menuai apresiasi luas dari masyarakat. Di tengah sorotan publik terhadap institusi kepolisian, langkah Kapolrestabes Surabaya menjadi potret lain wajah Polri—tegas namun berperasaan, berwibawa namun tetap manusiawi.
Peristiwa ini sekaligus menjadi cermin sosial: bahwa kemiskinan masih menjadi persoalan nyata yang bisa menyeret siapa saja ke jurang kesalahan. Dan ketika hukum bertemu dengan empati, yang lahir bukan kelemahan, melainkan keadilan yang bermartabat.
Surabaya hari itu bersaksi—bahwa Polri tidak hanya hadir untuk menangkap dan menindak, tetapi juga mampu memeluk, menguatkan, dan menyelamatkan masa depan anak bangsa.
Sintora News
Tajam, Akurat, dan Berpihak pada Nurani
( Redaksi)
Editor : Redaksi