RUMAH LIMASAN DIBELAH DUA! Konflik Suami Istri di Grobogan Berujung Aksi Nekat

SINTORA NEWS – Peristiwa tak biasa terjadi di Desa Mlowokarang, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026). Sebuah rumah limasan berbahan kayu yang selama ini berdiri kokoh, mendadak terpisah menjadi dua bagian.

 

Bukan karena gempa atau angin kencang, melainkan buntut konflik rumah tangga yang tak kunjung menemukan titik temu.

 

Menurut informasi yang dihimpun, perselisihan bermula dari keretakan hubungan suami istri yang diduga dipicu persoalan kesetiaan. Sang suami disebut masih berupaya mempertahankan rumah tangga. Namun pihak istri menolak untuk kembali rujuk. Ketegangan pun terus meningkat hingga melibatkan keluarga besar kedua belah pihak.

 

Situasi memanas ketika suami berencana memindahkan rumah limasan tersebut ke kampung halamannya. Mengingat bangunan tradisional berbahan kayu itu memang dapat dibongkar pasang, rencana tersebut dianggap memungkinkan secara teknis.

 

Namun keputusan itu ditentang keluarga istri. Orang tua pihak perempuan kemudian meminta dilakukan mediasi dengan melibatkan Ketua RT dan perangkat desa setempat agar persoalan tidak semakin meluas.

 

Dalam musyawarah tersebut, perangkat desa menyarankan agar harta bersama dibagi secara adil. Saran itu rupanya dimaknai secara harfiah. Rumah yang menjadi simbol kebersamaan pasangan itu akhirnya benar-benar dibongkar dan dipisahkan menjadi dua bagian.

 

Tak hanya bangunan utama, sejumlah perabot dan isi rumah pun ikut dibagi.

 

Warga sekitar yang mengetahui peristiwa itu langsung berdatangan. Mereka menyaksikan proses pembongkaran rumah limasan yang selama ini menjadi bagian dari lanskap desa. Banyak yang menyayangkan berakhirnya konflik dengan cara ekstrem tersebut.

 

“Sayang sekali, padahal rumahnya masih bagus,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

 

Rumah limasan sendiri dikenal sebagai bangunan tradisional Jawa yang memiliki struktur kayu kuat dan sistem sambungan khas, sehingga memungkinkan untuk dipindahkan atau dibongkar tanpa merusak keseluruhan konstruksi. Namun dalam kasus ini, pembagian fisik bangunan menjadi simbol nyata perpecahan dalam rumah tangga tersebut.

 

Peristiwa ini pun menjadi perbincangan hangat masyarakat sekitar hingga ke luar desa. Banyak pihak menilai persoalan keluarga semestinya diselesaikan dengan kepala dingin dan komunikasi terbuka, bukan dengan langkah yang berujung pada perpecahan secara simbolik maupun nyata.

 

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa konflik yang tak dikelola dengan bijak dapat berujung pada keputusan yang disesali kemudian hari.

 

SINTORA NEWS

Berani, Tajam, dan Akurat

 

( Redaksi)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru