REZEKI BUKAN MATEMATIKA: Gus Baha Ungkap Rahasia Hidup, Jangan Iri Soal Dunia, Kejar Husnul Khatimah

Sintora News – Dalam salah satu pengajiannya yang penuh hikmah dan disampaikan dengan gaya khas yang sederhana namun mengena, Gus Baha kembali mengingatkan umat tentang hakikat rezeki dan cara Allah mengatur kehidupan manusia.

 

Di hadapan para jamaah, ulama yang dikenal luas karena kedalaman ilmu tafsirnya itu menuturkan bahwa hidup ini tidak selalu berjalan sesuai logika manusia.

 

“Kadang ada orang yang ilmunya tinggi, kerjanya rajin, tapi hidupnya pas-pasan. Sementara ada orang yang tampak biasa-biasa saja, tapi hidupnya berkecukupan. Itu bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain, tapi itu adalah cara Allah mengatur dunia,” tutur beliau.

 

Menurutnya, banyak orang terjebak dalam cara pandang yang terlalu matematis dalam menilai hidup. Seolah-olah, semakin tinggi pendidikan dan semakin keras usaha, maka otomatis semakin besar pula hasil yang didapatkan. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

 

Kisah Santri dan Jalan Rezeki

 

Dalam pengajian tersebut, Gus Baha menceritakan kisah sederhana tentang dua orang santri di sebuah pesantren.

 

Salah satunya dikenal biasa saja. Tugasnya hanya membantu di dapur pondok, mengurus kebutuhan harian tanpa terlihat menonjol dalam pelajaran. Namun setelah keluar dari pesantren, Allah membukakan jalan rezeki yang luar biasa baginya.

 

Sementara itu, ada pula santri lain yang lebih pintar, lebih rajin, dan lebih menonjol dalam bidang ilmu. Akan tetapi, setelah kembali ke masyarakat, hidupnya berjalan sederhana.

 

“Kenapa begitu? Karena hidup ini bukan matematika. Rezeki itu bukan soal logika,” ujar Gus Baha.

 

Pesan tersebut menegaskan bahwa ukuran manusia bukanlah ukuran Allah. Apa yang tampak kecil di mata manusia bisa saja besar dalam takaran keberkahan di sisi-Nya.

 

Besar Kecil Bukan Soal Nominal, Tapi Berkah

 

Gus Baha juga menggambarkan fenomena yang sering dijumpai di masyarakat.

 

“Ada orang jual gorengan, kelihatannya kecil, tapi rumahnya lunas, anak-anaknya sekolah semua, hidupnya tenang. Sementara ada yang kerja di kantor besar, tapi tiap bulan stres mikir cicilan. Jadi bukan besar kecilnya, tapi berkahnya.”

 

Melalui perumpamaan itu, beliau ingin menanamkan pemahaman bahwa kecukupan dan ketenangan hati tidak selalu identik dengan jabatan tinggi atau penghasilan besar. Yang menentukan adalah keberkahan dalam rezeki tersebut.

 

Menurutnya, iri hati terhadap pencapaian orang lain hanya akan menggerus rasa syukur. Padahal setiap orang telah memiliki porsi rezeki yang diatur dengan keadilan Allah.

 

“Allah itu Maha Adil. Rezeki itu adil. Tapi adil menurut Allah, bukan menurut kamu,” tegasnya.

 

Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

 

Di akhir tausiyahnya, Gus Baha menyampaikan pesan yang sangat mendalam tentang tujuan hidup seorang Muslim.

 

“Hidup ini bukan lomba cepat-cepatan sukses. Yang penting itu husnul khatimah, akhir yang baik. Kalau sekarang kamu masih susah, belum tentu selamanya. Yang penting jangan putus asa dari rahmat Allah.”

 

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesulitan hari ini bukanlah vonis untuk selamanya. Setiap fase kehidupan memiliki hikmah dan perannya masing-masing dalam membentuk keimanan dan kedewasaan seseorang.

 

Dalam perspektif beliau, kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai kemapanan dunia, melainkan bagaimana ia menjaga iman hingga akhir hayat.

 

Nasihat Gus Baha ini pun kembali menjadi refleksi bagi masyarakat luas di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Bahwa dalam kehidupan, bukan sekadar soal siapa yang paling cepat dan paling tinggi, melainkan siapa yang paling sabar, paling bersyukur, dan paling kuat berharap kepada Allah.

 

 

 

SINTORA NEWS

Berani, Tajam, dan Akurat

 

( H.sulihin)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru