YOGYAKARTA – Suasana pengajian kitab yang terbuka untuk umum itu berlangsung khidmat. Para jamaah menyimak dengan serius penjelasan tentang kealiman para tokoh besar di balik kitab yang sedang dikaji.
Namun di tengah suasana penuh ilmu tersebut, almarhum Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Maimun, tiba-tiba melemparkan seloroh yang membuat suasana mencair.
Dengan gaya khasnya, beliau menoleh kepada salah satu santri kesayangannya yang juga hadir saat itu, Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha.
“Nek kowe karo aku pinter endi, Ha?” (Kalau kamu sama saya, lebih pintar mana, Ha?)
Sontak hadirin terdiam sejenak. Namun dengan wajah tersenyum dan penuh takzim, Gus Baha menjawab spontan:
“Pinter kula sekedhik, Mbah…”
Mbah Maimun pun tertawa. Jamaah yang hadir ikut tersenyum dan suasana pengajian berubah hangat oleh canda penuh adab tersebut.
Canda yang Sarat Makna
Kisah ini dituturkan oleh salah seorang sahabat yang berdomisili di Yogyakarta dan kerap sowan kepada Mbah Maimun.
Sepintas, percakapan itu terdengar ringan. Namun di balik seloroh tersebut tersimpan kedekatan emosional antara guru dan murid, sekaligus gambaran akhlak luhur para ulama.
Tidak mungkin seorang kiai sepuh sekaliber Mbah Maimun melontarkan pertanyaan seperti itu jika tidak mengakui kapasitas keilmuan sang murid. Pertanyaan tersebut justru menunjukkan pengakuan halus atas kedalaman ilmu Gus Baha, sekaligus bentuk kasih sayang seorang guru kepada santri yang dicintainya.
Sebaliknya, jawaban Gus Baha memperlihatkan kerendahan hati. Dalam bahasa Jawa, frasa “pinter kula sekedhik” dapat dimaknai dalam dua tafsir.
Pertama, “kepintaran saya hanya sedikit.”
Dalam makna ini, jelas terlihat sikap tawaduk seorang murid di hadapan gurunya.
Kedua, bisa pula diartikan “pintaran saya sedikit.”
Dalam konteks ini, jawaban tersebut bernuansa guyonan halus, mengikuti gaya canda sang guru.
Namun tentu saja, tafsir bahwa Gus Baha merasa lebih pintar bukanlah inti dari humor tersebut. Esensinya terletak pada adab, penghormatan, dan kehangatan hubungan antara dua ulama besar.
Hubungan Istimewa Guru dan Murid
Bagi para pecinta pengajian Gus Baha, nama Mbah Maimun termasuk yang paling sering beliau sebut dengan penuh hormat. Hal itu menjadi bukti betapa besar pengaruh dan kecintaan beliau kepada sang guru.
Hubungan keduanya bukan sekadar relasi akademik, tetapi juga spiritual dan emosional. Sebuah teladan tentang bagaimana ilmu diwariskan dengan kasih sayang dan kerendahan hati.
Indonesia patut berbangga memiliki ulama-ulama alim yang tidak hanya dalam ilmunya, tetapi juga dalam adab dan keteladanan. Sosok seperti Mbah Maimun dan Gus Baha menjadi cahaya yang terus menerangi umat dengan pemahaman agama yang teduh dan mencerdaskan.
Di tengah derasnya arus informasi dan perdebatan, kisah sederhana ini menjadi pengingat bahwa keilmuan sejati selalu berjalan beriringan dengan kerendahan hati.
Sintora News
Berani, Tajam, dan Akurat
( H.sulihin
Editor : Redaksi