ALARM NARKOBA DI DUNIA PENDIDIKAN: 35 PELAJAR SMK DI PASURUAN POSITIF SABU

Pasuruan – Dunia pendidikan di Kabupaten Pasuruan sedang menghadapi sinyal bahaya serius. Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Pasuruan menemukan puluhan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terindikasi menyalahgunakan narkotika.

 

Dalam kegiatan skrining dan tes urine yang dilakukan terhadap sejumlah siswa SMK negeri maupun swasta di wilayah Kabupaten Pasuruan, sebanyak 35 pelajar dinyatakan positif narkoba. Dari hasil pemeriksaan, mayoritas pelajar tersebut diketahui mengonsumsi narkotika jenis sabu.

 

Tes urine tersebut merupakan bagian dari program pencegahan dan deteksi dini penyalahgunaan narkotika di lingkungan pendidikan. Kegiatan skrining dilakukan bulan lalu dengan metode sampling di berbagai sekolah.

 

Namun yang cukup mengejutkan, tidak semua siswa mengikuti pemeriksaan. Setiap sekolah hanya diambil sekitar 60 siswa sebagai sampel secara acak untuk menjalani tes urine.

 

Kepala BNNK Pasuruan, Masduki, menjelaskan bahwa pemilihan siswa yang mengikuti tes tidak dilakukan sembarangan. Pihak BNNK terlebih dahulu berkoordinasi dengan guru bimbingan konseling (BK) di masing-masing sekolah untuk menentukan siswa yang memiliki potensi kerentanan terhadap penyalahgunaan narkotika.

 

“Setiap sekolah diambil sekitar 60 siswa untuk dilakukan tes urine. Dari hasil pemeriksaan itu ditemukan 35 pelajar yang positif narkotika,” ujar Masduki.

 

Menurutnya, angka tersebut tergolong cukup tinggi. Terlebih lagi skrining baru dilakukan di tingkat SMK, sementara pemeriksaan serupa belum dilakukan terhadap siswa tingkat SMP maupun SMA.

 

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkotika sudah mulai merambah kalangan pelajar usia sekolah.

 

Meski demikian, BNNK Pasuruan menegaskan bahwa para pelajar yang terindikasi menggunakan narkotika tidak akan diproses secara hukum. Mereka akan menjalani pembinaan, pendampingan, serta program rehabilitasi ringan melalui rawat jalan.

 

“Para pelajar ini terdiri dari laki-laki dan perempuan, namun mayoritas laki-laki. Mereka akan menjalani rawat jalan. Bahkan ada juga yang kami datangi langsung untuk proses pendampingan,” jelasnya.

 

Dari hasil pendalaman sementara, sebagian besar pelajar mengaku mulai mengenal narkotika karena pengaruh pergaulan dan lingkungan. Banyak dari mereka menggunakan narkoba karena ajakan teman, sementara sebagian lainnya mengaku hanya sekadar ingin mencoba karena rasa penasaran.

 

BNNK menilai kondisi ini menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Pasuruan. Jika tidak segera ditangani secara serius, penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar dikhawatirkan akan semakin meluas.

 

Karena itu, BNNK Pasuruan mendorong adanya kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, serta berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan.

 

Edukasi tentang bahaya narkotika dinilai harus terus digencarkan di lingkungan sekolah agar para pelajar memiliki pemahaman yang kuat tentang dampak buruk penyalahgunaan narkoba.

 

“Penanganan masalah narkotika tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada sinergi antara pemerintah, sekolah, dan seluruh pihak terkait. Sosialisasi tentang bahaya narkotika harus terus dilakukan,” tegas Masduki.

 

Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman narkoba kini tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga telah masuk ke lingkungan pelajar yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa.

 

Jika tidak ada langkah pencegahan yang serius dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin masa depan generasi muda akan terancam oleh bahaya laten narkotika.

 

Sintora News

Berani, Tajam, dan Akurat

 

( Redaksi)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru